Maafkan aku senjaku telah runtuh terburai dalam gaun malam,
entah apa yang kupikir,yang hanya ada aku ingin sunyi di bilik jaman yang semakin keropos di batinku,
Aku ingin sembunyi dalam selimut gelap dan memandang binar-binar cahaya hingga akhir kematian menetes di penghujung mata,
Aku mulai tersudut memeluk lutut hingga sesak meratap bulan terang sempurna dijantung kematian,
Duhai senja temaram ku sebagai istri kuletakkan mahkota kebebasan yang membuatmu tak mengerti lagi arti sesungguhnya sebagai istri,
Jika mata itu indah kenapa pula pernikahan itu terbungkus kusut,
Pernikahan itu hanya menyelamatkan hati dan ruh yang kau kutuk di ujung perut,
Kini aku mati sebagai sampah dimatamu istriku,
Setelah aku beri jembatan untuk kau daki pelangi mimpi yang tepenggal jauh,
Kini selesailah sudah keringat membasuh tangis mimpi-mimpi jemu,
Kau dipuncak lupa akan akar-akar yang telah menumbuh suburkan kaki terpasung dalam kamar,
Kau bukan lagi kasih istri yang senantiasa mampu meredakan badai dijantungku,
Kau selayaknya wanita yang bengis pendendam,sebelum kau lihat apa yang kutulis dibalik pintu,
Aku tau kau lupa akan rindu untukku,aku tau kau hanya berharap mendapat tempat dan nama disetiap laki-laki didunia maya pada,
Kau tak lagi sempat menuliskan sutra yang sholeh yang professional yang mampu menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga,
Aku tau kau mencari malaikat digelap gempita rumah tangga,
Tak jua kau bawa sehelai sutra menyelimuti bibir untukku,
Maafkan aku senjaku aku tak tahan akan sikap dan perlakuanmu.
#Teruntuk istriku tercinta#