05 Sep 2009 hilang arti
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

sebentar saja aku ingin melantunkan seruling resah yang berpaut pada ikatan angin malam,sehingga aku tak lagi berbisik pada nadi atas segala keraguan tertumpuk ranum di bibir mataku.

Sebentar saja aku telah tertampar lidahmu,sebab teduh dan mekar untukku hilang begitu saja,padahal belasan bulan yang lalu aku telah memperjuangkannya untukmu,dimatamu aku tak berarti puri,tak memberi terang didepan mata gemerlapmu.

aku tak lagi berarti.

05 Sep 2009 ratap hasrat jasadku
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

berkali kali aku sematkan gunung untuk menindih rasa nyeri yang tak kau beri sedikit hujan di jasadku,
sebab apa pula aku harus merasakan keterpurukan padahal t’lah ku coba menimbun bongkahan salju di altar yang kusut.

akan kubangun apa lagi untuk menurunkan bunga - bunga sepanjang perjalanan menuju hakikat cinta, sebab apa pula menutup helai rambut yang kusut,sedang aku mati pada hasratmu memekar di ubun-ubun jantungmu.

aku kembali menjadi serpihan sampah pada akar rumput hijau di matamu, dengan apa lagi aku harus memulai untuk sedikit bisa sampai ke tebing mimpimu,yang tak sempat lagi kau petik wangi pada pelataran hijau kidungkan gemericik hujan.

desahan rintik menggeming mana kala kau lemparkan aku dengan sepucuk sutra di jasadku yang hampir tak berdetak lagi untuk seribu untaian kata,dengan itu barangkali kau tutup rasa salahmu merupa malam pada sendi-sendi menantimu.

dengan itu pula nyeri itu hilang,namun tetap tak kau beri sedikit bunga di atas altar jasadku yang semakin keropos menjadi debu dan kusut…

(dari ratapan malam)

05 Sep 2009 Hilang Arti
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

sebentar saja aku ingin melantunkan seruling resah yang berpaut pada ikatan angin malam,sehingga aku tak lagi berbisik pada nadi atas segala keraguan tertumpuk ranum di bibir mataku.

Sebentar saja aku telah tertampar lidahmu,sebab teduh dan mekar untukku hilang begitu saja,padahal belasan bulan yang lalu aku telah memperjuangkannya untukmu,dimatamu aku tak berarti puri,tak memberi terang didepan mata gemerlapmu.

aku tak lagi berarti bagi cintamu dewi.

05 Sep 2009 RATAPAN MALAM
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

Langit langit berwajah manis tersapu debu,

Kicauan lidah di cecap nyeri,

Mengulur benang malam tertawa duka.

05 Sep 2009 karena cintalah aku bicara
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

Maafkan aku senjaku telah runtuh terburai dalam gaun malam,
entah apa yang kupikir,yang hanya ada aku ingin sunyi di bilik jaman yang semakin keropos di batinku,
Aku ingin sembunyi dalam selimut gelap dan memandang binar-binar cahaya hingga akhir kematian menetes di penghujung mata,
Aku mulai tersudut memeluk lutut hingga sesak meratap bulan terang sempurna dijantung kematian,

Duhai senja temaram ku sebagai istri kuletakkan mahkota kebebasan yang membuatmu tak mengerti lagi arti sesungguhnya sebagai istri,
Jika mata itu indah kenapa pula pernikahan itu terbungkus kusut,
Pernikahan itu hanya menyelamatkan hati dan ruh yang kau kutuk di ujung perut,

Kini aku mati sebagai sampah dimatamu istriku,
Setelah aku beri jembatan untuk kau daki pelangi mimpi yang tepenggal jauh,
Kini selesailah sudah keringat membasuh tangis mimpi-mimpi jemu,
Kau dipuncak lupa akan akar-akar yang telah menumbuh suburkan kaki terpasung dalam kamar,

Kau bukan lagi kasih istri yang senantiasa mampu meredakan badai dijantungku,
Kau selayaknya wanita yang bengis pendendam,sebelum kau lihat apa yang kutulis dibalik pintu,

Aku tau kau lupa akan rindu untukku,aku tau kau hanya berharap mendapat tempat dan nama disetiap laki-laki didunia maya pada,
Kau tak lagi sempat menuliskan sutra yang sholeh yang professional yang mampu menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga,

Aku tau kau mencari malaikat digelap gempita rumah tangga,

Tak jua kau bawa sehelai sutra menyelimuti bibir untukku,

Maafkan aku senjaku aku tak tahan akan sikap dan perlakuanmu.

#Teruntuk istriku tercinta#

05 Sep 2009 RATAPAN LEMBAYUNG SENJA
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

Di keningku menunjuk selembar awan. Menebar aroma jamur-jamur kuning kehitaman. Di ufuk langit barat merekah suara burung pengemis melayani cahaya menunduk runtuh dengan kicau semak dedaunan menjalin tali sepanjang kasih, menutup langit kembali sunyi.

Senja telah menandakan peluit sebab lembayung bersikukuh untuk tinggalkan senyuman menghias angkasa, serta cahayanya jatuh ke lautan menjelma cermin keemasan.

Oh ! Aku masih ingin tetap berdiri diam mengkhawatirkan kepergian senja. memeluk hiasan-hiasan langit, hingga hilang lenyap di pelupuk mata. Di penghujung halaman belakang mataku mulai mengamati cahaya meredup. Karena engkau tahu berapa menit tersisa senja akan singgah dan turun tinggalkan bayang, merinding gigih menemanimu menutup mata.

Lembayung senja !
Akan kunanti ketukan pertama di depan pintu gerbang cahaya berpagar tinggi pesona. mengatur segala risau dengan seulas senyuman menghias pelataran kata. Kembali sirna.

05 Sep 2009 PINTAKU UNTUK KAU TULIS JEJAKKU
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

tiga tahun yang lalu aku meminta kau lukiskan aku dengan tinta berlapis kertas buram untuk sampai keliang lahat,
sampai malam gusar aku pinta nyanyian perih di jejak mata kaki semakin kelu,
yang kupinta menjadi lembab,basi terkubur hingga membusuk,

pintaku,menjelma seonggok sampah beterbangan,
pintaku,tidak sehelaipun kau lukis sunyi untukku,

hingga kini pintaku tertumpuk berjamur biru di keningku,
tak sehelai daunpun kau lukis jejak diantara sunyi kau tinggalkan,

“kau lihat!?” alangkah pedihnya pada musim rindu menghanyut,
“kau dengar!?” desir angin desahkan rindu tintamu biru,
atau kau hanyutkan aku pada resah angin diantara musim,
senantiasa mata birahiku mengetuk pintu dipenjuru resah, “sebab apa jejak itu tidak kau lukis?”

atau mungkin pada kutipan langit memburu cahaya dijiwaku,
“kau lihat!?”pada batinku batu dan duri menanah nyeri pintaku seru,”

hingga sentuh tak terkayuh,tak jua kau tulis pinta jejak kisahku.

05 Sep 2009 PENANTIAN
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

datanglah remang-remang dalam diamku merdu,
sebab ratap terkubur tanah pada rasa nyeri dalam nadi,
nadipun tak bergeming dingin sejuta kalimah.

kenangan pada ranting rapuh terkulai terkubur sunyi,
ada yang tidak mampu melingkarkan pena pada abjad merintih perih.

terkurung pada wajah gelap gempita melaknat di antara cerita penantian panjang,
entah bakal jadi apa raga pesona senja dalam diamku malu,
hingga nyanyian senja merona tanpa bunga mengusung kusut,

kureka rangkai kembalikan untukmu jua!

05 Sep 2009 SEBAGAI KEKASIH
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

sebagai kekasih aku menjelma kilauan embun pada dinding mematah basi,
telapak mega menutup pintu sepanjang senja,
manakala cuaca kehilangan separuh terang pada sanubari bertunas remang membujuk rindu,
mengulum salju ngilu pada peluk pecah mematah biru,
dari cermin terlihat langit tandus dan letih menyisakan mangsa serumpun rindu menyela sunyi,
ah!barangkali hanya risau harapan jelata mengecap nyeri pada ranting-ranting merdu menjelma bangkai tak terkubur,
sebagai kekasih aku sulam kelam tak terlukis letih karna debu menindih,
aku merasa embun tak akan bertemu senja mana kala musim berganti mimpi,
aku kembali sebagai kekasih!
pada daun pintu kutawarkan hasrat membelah gelap,
merayap setiap akar-akar batinmu menjulanng sepi,
kembali pulang,
sebagai kekasih menyulam mimpi menjelang terang.

05 Sep 2009 SELIMUT MUTIARA HIJAU
 |  Category: Pepuisi  | Leave a Comment

Aku takut kehilangan selimut mutiara hijau-ku. Kunamakan selimut mutiara hijau untuk mengejawantahkan seberapa besar harap yang kusimpan padamu. Untuk melukiskan seberapa besar aku menyayangimu. Seberapa takut aku kehilangan semua yang ada pada dirimu. Meski itu sehelai rambutmu.Meski itu hanya berupa secuil potongan kuku-mu.

Sekali waktu aku melihat selimut mutiara hijauku melayang-layang berkabut waktu. Memberikan suara-suara sayang pada hijau-hijau di tepian jalan. Dan engkau kembali padaku menjelma boneka setelah segala senyum segala ceria nyata tertumpah pada nadi lain. Selain aku.Tak berfikirkah ngilu di sendi-sendi tubuhku?

Akhirnya kukubur saja dedaunan yang melayang pulang membawa cahaya rembulan. Pada pelukan kaku kayu-kayu yang membujur membelakangiku. Di mataku tak lagi hadir hangatmu sebagaimana dahulu pernah kusanjung kupuji setiap lipatan detik. Engkau menjelma mutiara pupus sebagaimana kakunya aku berpeluk boneka beku di lelap tidur malamku.

Entah, apakah harus kuulangi lagi berbaris petuah agar engkau kembali bertutur seperti dulu. Atau, cukup kupasrahkan saja hati menerima sikapmu yang tak lagi mampu tawarkan hangat di hitungan hariku.